Laman

Kamis, 18 September 2014

MASK










MASK
by Priya Taqwa Agana




            Hari ini bukan pertama kalinuya aku mendapati tasku terbuka. Aku sungguh panik, tapi aku nggak tau siapa yang udah membuka tasku tasku yang sedari tadi aku sudah tutup rapat. Semua barang didalam tas aku cek, siapa tau ada yang hilang. Tapi aku sempat mematung. Sebuah kertas biru disisipkan di bagian buku matematika tulisku.
            Aku mengambilnya. Sebelumnya aku mengamati sekitar. Semoga saja tidak ada yang sedang menatapku saat itu juga.

Hai, Dhea. Maaf buat kamu panik. tadi itu permainan yang bagus. Aku ngeliat udah ada bakat yang terlukis didiri kamu. Good luck. Semoga berhasil.
                                                               


 2 jam yang lalu….


“Cher! Lempar bolanya..!!”

“Ini! Dhea terima!”

               Aku udah bersiap-siap. Tanganku udah aku letakan didepan dada. Tapi tanganku tetep aja meleset saat akan menangkap bola itu. hasilnya bola itu jatuh ke tanah dan menggelinding. Lalu diambil sama tim lawan.

“Sebenernya kamu niat nggak sih!”

Aku tersentak. Menatap sosok tinggi tegap yang berdiri didepanku.

“Iya, Kak. Tapi tadi aku meleset..”

“Kalo kamu nggak bisa nangkep bola aja, gimana mau masukin skor ke ring lawan!”

“Udah, lah, Dave, dia kan juga masih latian kok. Nggak usah dipaksa jugaa..” tiba-tiba dateng kak Aga dari arah belakangku. 

               Kak David masih dengan muka seriusnya. Aku menunduk. Tak sanggup menatap wajah yang sedang kesal padaku. Saat aku melihat kakinya, kaki itu menjauh dariku. Berjalan menuju bangku di sisi lapangan.

“Kamu Dhea, kan?” tanya Kak Aga.

“Iya, Kak.”

“Udah, kamu nggak usah takut sama dia. Dia emang orangnya gitu. Jadi kamu sante aja.” Ucap Kak Aga padaku. “Good luck!” katanya mengacungkan jari. Lalu menutup satu mata kirinya dengan mulut tersenyum. Kak Aga memang Kakak kelas yang baik. dia bisa membimbing Tim juniornya dengan sabar. Beda kalo sama Kak David itu. Apaan dia?






<kembali ke saat ini>



               Aku jadi teringat sama kejadian itu. Apa ini dari Kak Aga? Apa iya? Tapi apa itu cara dia menyemangati juniornya? Tapi aku rasa nggak bisa secepat itu dia bisa kek gini. Apa lagi pake surat segala.
               Tapi aku nggak bisa cepat mengambil keputusan. Bisa saja cuman orang lain yang iseng. Atau surat nyasar yang nyasar ke tasku?

Ya, itu bisa jadi.



***


               Seperti biasa pulang sekolah aku langsung ke lapangan basket untuk berlatih. Tapi ini aku sempatin buat dateng lebih awal. Sebelumnya aku udah  berganti pakaian kaos biasa dan celana training.
               Aku melihat bola basket yang tergeletak di sudut lapangan. Aku nyoba buat masukin bola ke dalem ring. Aku nyoba ini buat tau seberapa besar skill ku bermain basket.
Sebetulnya aku belum mahir-mahir banget bermain basket. Mendribble saja aku masih kesusahan.
 
Dug dug dug

               Pertama aku mencoba buat mendribble. Tangan ini rasanya kaku. Tapi lama kelamaan terbiasa juga. Aku mulai menjalankan kakiku pelan-pelan mendekati ring. Lalu melemparkan bola itu kesana. Tapi hasilnya gagal. Aku coba lagi. Dan kembali gagal. Lagu aku coba lagi, lagi, lagi, dan lagi. Namun hasilnya tetap sama.

               Tiba-tiba aku merasa aneh. Aku melihat pantulan manusia yang tercetak samar dilantai. Sosok itu sedang mengintip di pintu masuk lapangan.

               Cepat-cepat aku tolehkan kepalaku. Tapi tidak ada seorangpun disana. Aku mulai berikiran yang tidak-tidak. Cepat-cepat aku ambil tasku dan berlari keluar lapangan. Entah apa yang aku lihat tadi bukanlah hal yang lucu. ya, itu nggak lucu.



***



               Sesudah belajar, seperti biasa aku mempersiapkan buku materi untuk besok. Satu persatu bukuku keluarkan dari dalam tas. Awalnya tidak ada yang aneh. Tapi, dengan tidak sengaja aku menemukan sebuah surat biru lagi. Sama seperti kemarin. Aku kira ini suat yamg sama, tapi bukan. Disana masih terdapat surat yang ku baca kemaren sore.

Tadi itu udah bagus. Aku suka usaha kamu. Jangan kapok-kapok berlatih, tetap coba lagi dan lagi.

               Aku mengerutkan kening. Aku merasa heran sama surat kaleng ini. Terutama si pemilik surat ini. ini udah kedua kalinya aku mendapatkan surat ini di dalam tasku. Apa benar ini dari Kak Aga? Tapi aku masih ragu. Lalu ini surat siaapa?




***



               Latian basket kembali aku jalanin. Seperti biasanya aku masih kaku dengan permainan basketku. Permainan baksetku memang buruk. Tapi ada Kak Aga yang selalu menyemangatiku. Kak Aga bisa ngertiin aku dan terus ngelatih aku supaya bisa jadi lebih baik. Tapi itu nggak berlaku bagi Kak David. Dia seolah tak peduli denganku. Dia lebih memilih untuk melatih mereka-mereka yang sudah bisa bermain basket dengan baik.

“Permainan basket kamu sebetulnya bagus, Dhe. Cuman butuh ketekunan aja buat ngasah skill kamu.”

Aku berhenti mendribble bola.

“Tapi ketekunan aja nggak cukup, Ga.” Tiba-tiba kak David datang dan berdiri disebelah Kak Aga. Dia memandangiku dengan tatapan yang membuatku down.

“Apa potensi kamu masuk grup basket?”


“Aku pengen bisa main basket dan mengharumkan nama sekolah.” Jawabku mantap.

“Trus? Cuman itu?” jawabnya. Tiba-tiba kak Aga, meniup peluitnya dengan keras.

“Latian selesai! Kalian boleh pulang!” kata Kak David pada mereka. “Kecuali kamu Dhea.” Ucapnya perlahan.

Kini lapangan sudah kosong, mereka sudah pergi pulang sekarang. Kecuali aku, Kak Aga, dan David.

                Tiba-tiba Kak David membuka jaket abu-abunya. Menyisakan kaos basket merah bernomor 4 dan bertuliskan namanya. Lalu memposisikan dirinya di bawah ring. “Tanpa aku rebut, kamu harus bisa membuktikan potensimu mengikuti tim basket ini.”

               Aku mengerti maksudnya. Aku harus memasukan bola ke dalam ring tanpa ia harus merebut bola dariku. Aku hanya harus melewatinya dan memasukan bola ke dalam ring. Tapi, keliatannya itu tidak mustahil.

“Dave, jangan lebay, deh! Dia kan masih newbie. Belum ada skill yang menonjol darinya! Nggak seharuskan juga kan kek gini!”

Tapi David tetep standby pada posisinya.

“Dave!”

“Udah, Kak.” jawabku cepat. “Aku bisa.”

               Kak Aga menatapku. Aku pun juga menatapnya. Walaupun kemungkinan kecil aku bisa memasukan bola itu, tapi seenggaknya aku udah berusaha. Dan ini adalah sebuah tantangan tersendiri buatku.

Dug

Aku mulai mendrible

Dug dug

Sambil  menghirup nafas dan menatap Dave dari kejauhan.
               Aku mulai melangkahkan kakiku. Aku terus yakin. Dan memfokuskan pandanganku pada ring. Aku mulai mendekati David. Rasa ragu muncul didalam benaku. Tapi aku buru-buru menepisnya. Yang aku pikirkan hanyalah memasukan bola kedalam ring dan membuktikan kemampuanku pada David.

Aku mulai berjalan dengan cepat, tunggu, bukan berjalan, tapi berlari!
aku berlari sambil terus mendribble bola. Aku semakin dekat dengannya.

Dan Hop!

Bola melayang…

“Hop!” namun Dave bisa menangkapnya.
“Usaha yang bagus.”

Aku menatapnya.

“Dave!” kak Aga berjalan medekati kami. “Maksudmu apa sih? Ini nggak berguna! Nggak ada tujuan dibalik ini semua!” katanya kesal. Tapi David malah beranjak meninggalkanku dengan masih memegang bola itu.


“Hh.” Aga menghembuskan nafas. “Sorry, Dhe. Kita nggak bermaksud buat meng ‘khusus’ kamu. Tapi—”

“Iya, Kak. aku ngerti, kok. Nggak papa.” Kataku sambil tersenyum.





***



               Sepulang sekolah, aku bermaksud mengambil buku didalam loker. Novel yang aku pinjam sudah habis masa peminjamannya. Dan aku niatkan untuk mengembalikannya.

Kreet..

               Aku membuka loker itu. disana sudah ada novel yang tertidur dengan rapi. Aku mengambil novel itu dan kumasukan kedalam tas. Tapi ketika hendak menutup loker, aku kembali menemukan sebuah surat. Namun kali ini berwarna hijau.


Aku tahu kok, kamu itu emang perempuan yang nggak gampang nyerah gitu aja. Ambisimu besar, dan ada kemauan yang besar juga dalam diri kamu. Semangat! Kamu pasti bisa!

               Kak Aga? Aku emang gk nyangka. Kalo dia bisa se-care ini denganku. Ini emang pertama kalinya aku dapet sura-surat kaleng seperti ini.  ini terjadi setelah aku mengikuti ekskul basket. tiba-tiba pipiku memerah. Darah naik ke kedua pipiku. Membuat pipiku seperti buah tomat yang siap dipetik. Membayangkan sesosok Aga yang begitu sayang padaku. 

“Cieee… yang punya penggemar rahasiaa…” kata kakak-kakak kelas yang lewat melewati lokerku. 

“Bu-bukan..” kataku gugup, nggak bisa nyembunyiin rasa bahagia di hatiku.

               Aku menutup lokerku. Lalu memasukan surat itu dan menutup tasku. dan berjalan menyusuri lorong untuk pulang kerumah. Namun sebelum itu, aku berniat berjalan memutar untuk melewati studio basket. entah  kenapa rasanya aku pengen lewat gitu aja.
Saat aku berjalan beberapa meter dari pintu studio, aku mendengar decitan suara sepatu dan suara bola basket yang dipantulkan beberapa kali diatas lantai. Aku melambatkan langkahku. Dan benar, suara itu semakin jelas. Apa ada yang sedang latihan siang ini? bukannya.. kata Kak Aga hari ini libur?
               Aku mengintip dari pintu dengan celah yang sedikit terbuka. Dan mendapati sesosok cowok pertubuh tegap sedang melakukan slam-dunk dengan begitu sempurna. Tapi disatu sisi aku menyesal. Karena bukan kak Aga yang lagi latian..




***


               Esoknya aku benar-benar tidak tahan untuk menanyakan siapa pemilik surat ini, dan apa maksud dari semua ini. Sepulang sekolah aku mencari Kak Aga. Aku mencarinya ke seluruh pelosok sekolah. Dikelasnya pun kosong. Dan pikiran ku tertuju pada studio basket. Ya, mungkin dia lagi ada disana.
               Aku buru-buru mempercepat langkahku. Dan berjalan menuju Studio basket. Aku sampai di sana. Dan benar, ternyata kak Aga lagi disana dan tentunya bersama Kak David, dan juga 1 orang pak guru yang memakai peluit di lehernya.
Aku berjalan menuju tribun atas. menunggu kak Aga selesai latihan. 

“Kak Aga!!” teriaku dari kejauhan. Kak Aga mencari sumber suara itu. dan berhasil menatap ku. “Sini!” kataku melambaikan tangan. Kak Aga pun menghampiri ku. Namun sebelum itu kak 
 David keluar karena suatu alasan. Mungkin ke WC.

“Ada apa?”

“Aku mau tanya. Boleh?” 

“Boleh, emang mau tanya apa?”

Mendengar tanggapan kak Aga aku langsung membuka tasku. dan mengambil surat-surat kelang itu.

“Ini punya kakak?” tanyaku memperlihatkan surat itu. kak Aga mengambil surat itu. namun sebelum membaca ia berkata, “Apa nih?”
Apa? ‘apa nih’? maksudnya?

Aku buru-buru merampas surat-surat itu dengan cepat.
“Jadi.. itu bukan punya kakak?”

“Bukan.” Katanya tersenyum.
Aku langsung menjunjukan wajah *facepalm*. 

“Yaudah, Kak. makasih.” Kataku buru-buru turun dari tribun. Aku jadi merasa bingung. aku berjalan keluar studio dengan pikiran yang entah kemana. 

Surat-surat itu bukan punya kak Aga? Trus.. siapa?

                Aku kembali berjalan memutar. Dan melewati lokerku. Namun langkahku sempat terhenti di sisi tembok. Saat melihat kak David… sedang membuka… lokerku.
Aku memperhatikan tangannya. Dan benar, aku melihat tangannya menyelipkan sesuatu. Kertas kecil berwarna biru. Kak David menutup pintunya perlahan. dan ia sempat memperhatikan sekitar. Namun aku buru-buru bersembunyi di balik tembok.
                Aku kembali mengintip. Dan ternyata ia berjalan ke lain sisi dan tidak berpapasan denganku. Aku buru-buru menghampiri lokerku. Dan benar, aku menemukan surat yang sempat aku perhatikan tadi.
               Aku gk nyangka, kalau orang yang selama ini care sama itu bukanlah Aga, tapi David. Sebelumnya aku emang gk tahu kalo David yang suka sama aku, tapi Aga. Aga termasuk orang yang terbuka, beda dengan David. Yang cuek dan dingin. Aga lebih hangat dan care. Apa David pemalu? atau… gengsi?




***



                Hari ini ada pensi disekolahku. Dengan panggung megah dan besar. Banyak siswa-siwsi yang mengisi pensi sesuai dengan bakat yang mereka punya. Namun aku hanya terduduk di kursi hijau plastiku. Menonton para kakak-kakak kelas yang tampil mengisi acara.
                Tiba-tiba pandanganku tetuju pada barisan penonton paling depan. Disana, aku melihat Kak David yang sedang memfoto seperti photographer. Dengan pakaian batik dan celana panjang coklat.

Aku masih membawa suratku. Dan keinginanku sudah bulat untuk menanyakan tentang hal ini pada David. 

               Acara selesai sekitar jam setengah lima sore. Semua orang meninggalkan tempatnya dan berjalan keluar sekolah. Namun aku masih berada disana dan mencari David di kerumunan orang seperti ini. aku terdiam di tempatku. Memperhatikan sekitar. Dan BINGGO! Aku melihatnya. Ia sedang berjalan naik seorang diri ke lantai atas.

               Aku menyusulnya. Mengekor di belakangnya dengan sembunyi-sembunyi. Aku kembali mencarinya. Langkahnya begitu cepat. Namun aku menyadari kalau dia telah berada di atap gedung sekolah yang beratap datar. Aku segera menyusulnya.

                Aku menatapnya dari jauh. Mentatap punggungnya yang sedang memotret sunset tampaknya. Pemandangan disini gk terlalu buruk. Lebih luas dan bisa ngeliat sunset tampa terhalang apapun. Dan akupun menghampirinya.

“Kak.”
Dia tersentak. Seperti terkejut karena tidak menyadari kalau aku sudah berada di belakangnya. Ia membalikan badan. Dan menatapku dengan tatapan seperti biasa. Dingin..

“Apa?” jawabnya tanpa menatapku. Ia hanya terus memotret seperti menghiraukanku.
Aku udah muak. Dan aku langsung pada permasalahan. To the point.

“Ini punyamu?” aku menodongkan surat itu.

Ia tampak terkejut. Namun balasannya tidak sesuai dengan ekspressi wajahnya. “Bukan, itu bukan punya ku.” Katanya menutupi. Lalu kembali memotret.

“Udah deh kak! gausah bohong! Aku tahu, kok. Kakak yang naroh surat ini di lokerku kan?!” kataku sedikit nyolot. 

“…”

“Aku liat waktu itu. Kakak diem-diem naroh surat ini di lokerku. Pertama emang aku gk nyangka. Aku kira Kak Aga, tpi ternyata kamu.” jelasku. David cuman diem. Gk ngasih respon apapun.

“Masih nggak ngaku juga? Yaudah.” Kataku berpaling dan beranjak ingin pergi. Namun lenganku di genggam kuat olehnya dengan cepat. “Dhea tunggu!”

Aku menatapnya dengan tatapan kesal.

“Hh.. gue suka sama lo.”

Raut mukaku berubah. Mataku membulat dan alisku terangkat.

“Gue emang gk terlalu kenal sama lo. Tapi gue liat kemauan dan ambisi lo yang begitu besar. Dan gue yakin, dengan perantara Aga gue bisa tau kalo lo adalah cewek yg baik.” 

“Jadi bener? Kakak yang naroh surat ini?”

David menunduk, lalu kembali menengadahkan kepalanya. “Ya.”
“Dan gue pengen… lo mau, jadi pacar gue?”

aku termenung…
David emang orang yang nyebelin. Tapi dengan keberadaan surat-surat itu, David udah nunjukin sifa aslinya. Dia orang yang care, penyayang, dan mungkin… dia bisa jadi patner aku yang baik.

“Nggak.”

David mengerutkan keningnya.

“Aku nggak nolak.” Kataku memamerkan deretan gigi putihku.

[Petra Sihombing – Mine]


END

 =========================================================================







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jangan lupa komentarnya