MASK
by Priya Taqwa Agana
by Priya Taqwa Agana
Hari ini
bukan pertama kalinuya aku mendapati tasku terbuka. Aku sungguh panik, tapi aku
nggak tau siapa yang udah membuka tasku tasku yang sedari tadi aku sudah tutup
rapat. Semua barang didalam tas aku cek, siapa tau ada yang hilang. Tapi aku
sempat mematung. Sebuah kertas biru disisipkan di bagian buku matematika
tulisku.
Aku mengambilnya. Sebelumnya aku
mengamati sekitar. Semoga saja tidak ada yang sedang menatapku saat itu juga.
Hai, Dhea. Maaf buat kamu panik. tadi itu permainan
yang bagus. Aku ngeliat udah ada bakat yang terlukis didiri kamu. Good luck.
Semoga berhasil.
2 jam yang lalu….
“Cher!
Lempar bolanya..!!”
“Ini!
Dhea terima!”
Aku
udah bersiap-siap. Tanganku udah aku letakan didepan dada. Tapi tanganku tetep
aja meleset saat akan menangkap bola itu. hasilnya bola itu jatuh ke tanah dan
menggelinding. Lalu diambil sama tim lawan.
“Sebenernya
kamu niat nggak sih!”
Aku
tersentak. Menatap sosok tinggi tegap yang berdiri didepanku.
“Iya,
Kak. Tapi tadi aku meleset..”
“Kalo
kamu nggak bisa nangkep bola aja, gimana mau masukin skor ke ring lawan!”
“Udah,
lah, Dave, dia kan juga masih latian kok. Nggak usah dipaksa jugaa..” tiba-tiba
dateng kak Aga dari arah belakangku.
Kak
David masih dengan muka seriusnya. Aku menunduk. Tak sanggup menatap wajah yang
sedang kesal padaku. Saat aku melihat kakinya, kaki itu menjauh dariku.
Berjalan menuju bangku di sisi lapangan.
“Kamu Dhea, kan?” tanya Kak Aga.
“Iya,
Kak.”
“Udah,
kamu nggak usah takut sama dia. Dia emang orangnya gitu. Jadi kamu sante aja.”
Ucap Kak Aga padaku. “Good luck!” katanya mengacungkan jari. Lalu menutup satu
mata kirinya dengan mulut tersenyum. Kak Aga memang Kakak kelas yang baik. dia
bisa membimbing Tim juniornya dengan sabar. Beda kalo sama Kak David itu. Apaan
dia?
<kembali
ke saat ini>
Aku
jadi teringat sama kejadian itu. Apa ini dari Kak Aga? Apa iya? Tapi apa itu
cara dia menyemangati juniornya? Tapi aku rasa nggak bisa secepat itu dia bisa
kek gini. Apa lagi pake surat segala.
Tapi
aku nggak bisa cepat mengambil keputusan. Bisa saja cuman orang lain yang
iseng. Atau surat nyasar yang nyasar ke tasku?
Ya,
itu bisa jadi.
***
Seperti
biasa pulang sekolah aku langsung ke lapangan basket untuk berlatih. Tapi ini
aku sempatin buat dateng lebih awal. Sebelumnya aku udah berganti pakaian kaos biasa dan celana
training.
Aku
melihat bola basket yang tergeletak di sudut lapangan. Aku nyoba buat masukin
bola ke dalem ring. Aku nyoba ini buat tau seberapa besar skill ku bermain
basket.
Sebetulnya
aku belum mahir-mahir banget bermain basket. Mendribble saja aku masih
kesusahan.
Dug
dug dug
Pertama
aku mencoba buat mendribble. Tangan ini rasanya kaku. Tapi lama kelamaan
terbiasa juga. Aku mulai menjalankan kakiku pelan-pelan mendekati ring. Lalu
melemparkan bola itu kesana. Tapi hasilnya gagal. Aku coba lagi. Dan kembali
gagal. Lagu aku coba lagi, lagi, lagi, dan lagi. Namun hasilnya tetap sama.
Tiba-tiba
aku merasa aneh. Aku melihat pantulan manusia yang tercetak samar dilantai.
Sosok itu sedang mengintip di pintu masuk lapangan.
Cepat-cepat
aku tolehkan kepalaku. Tapi tidak ada seorangpun disana. Aku mulai berikiran
yang tidak-tidak. Cepat-cepat aku ambil tasku dan berlari keluar lapangan.
Entah apa yang aku lihat tadi bukanlah hal yang lucu. ya, itu nggak lucu.
***
Sesudah
belajar, seperti biasa aku mempersiapkan buku materi untuk besok. Satu persatu
bukuku keluarkan dari dalam tas. Awalnya tidak ada yang aneh. Tapi, dengan
tidak sengaja aku menemukan sebuah surat biru lagi. Sama seperti kemarin. Aku
kira ini suat yamg sama, tapi bukan. Disana masih terdapat surat yang ku baca
kemaren sore.
Tadi itu udah bagus. Aku suka usaha
kamu. Jangan kapok-kapok berlatih, tetap coba lagi dan lagi.
Aku
mengerutkan kening. Aku merasa heran sama surat kaleng ini. Terutama si pemilik
surat ini. ini udah kedua kalinya aku mendapatkan surat ini di dalam tasku. Apa
benar ini dari Kak Aga? Tapi aku masih ragu. Lalu ini surat siaapa?
***
Latian
basket kembali aku jalanin. Seperti biasanya aku masih kaku dengan permainan
basketku. Permainan baksetku memang buruk. Tapi ada Kak Aga yang selalu
menyemangatiku. Kak Aga bisa ngertiin aku dan terus ngelatih aku supaya bisa
jadi lebih baik. Tapi itu nggak berlaku bagi Kak David. Dia seolah tak peduli
denganku. Dia lebih memilih untuk melatih mereka-mereka yang sudah bisa bermain
basket dengan baik.
“Permainan
basket kamu sebetulnya bagus, Dhe. Cuman butuh ketekunan aja buat ngasah skill
kamu.”
Aku
berhenti mendribble bola.
“Tapi
ketekunan aja nggak cukup, Ga.” Tiba-tiba kak David datang dan berdiri
disebelah Kak Aga. Dia memandangiku dengan tatapan yang membuatku down.
“Apa
potensi kamu masuk grup basket?”
“Aku
pengen bisa main basket dan mengharumkan nama sekolah.” Jawabku mantap.
“Trus?
Cuman itu?” jawabnya. Tiba-tiba kak Aga, meniup peluitnya dengan keras.
“Latian
selesai! Kalian boleh pulang!” kata Kak David pada mereka. “Kecuali kamu Dhea.”
Ucapnya perlahan.
Kini
lapangan sudah kosong, mereka sudah pergi pulang sekarang. Kecuali aku, Kak
Aga, dan David.
Tiba-tiba
Kak David membuka jaket abu-abunya. Menyisakan kaos basket merah bernomor 4 dan
bertuliskan namanya. Lalu memposisikan dirinya di bawah ring. “Tanpa aku rebut,
kamu harus bisa membuktikan potensimu mengikuti tim basket ini.”
Aku
mengerti maksudnya. Aku harus memasukan bola ke dalam ring tanpa ia harus
merebut bola dariku. Aku hanya harus melewatinya dan memasukan bola ke dalam
ring. Tapi, keliatannya itu tidak mustahil.
“Dave,
jangan lebay, deh! Dia kan masih newbie. Belum ada skill yang menonjol darinya!
Nggak seharuskan juga kan kek gini!”
Tapi
David tetep standby pada posisinya.
“Dave!”
“Udah,
Kak.” jawabku cepat. “Aku bisa.”
Kak
Aga menatapku. Aku pun juga menatapnya. Walaupun kemungkinan kecil aku bisa
memasukan bola itu, tapi seenggaknya aku udah berusaha. Dan ini adalah sebuah
tantangan tersendiri buatku.
Dug
Aku
mulai mendrible
Dug
dug
Sambil
menghirup nafas dan menatap Dave dari kejauhan.
Aku
mulai melangkahkan kakiku. Aku terus yakin. Dan memfokuskan pandanganku pada
ring. Aku mulai mendekati David. Rasa ragu muncul didalam benaku. Tapi aku
buru-buru menepisnya. Yang aku pikirkan hanyalah memasukan bola kedalam ring
dan membuktikan kemampuanku pada David.
Aku
mulai berjalan dengan cepat, tunggu, bukan berjalan, tapi berlari!
aku berlari sambil terus mendribble bola. Aku semakin dekat dengannya.
aku berlari sambil terus mendribble bola. Aku semakin dekat dengannya.
Dan
Hop!
Bola
melayang…
“Hop!”
namun Dave bisa menangkapnya.
“Usaha yang bagus.”
“Usaha yang bagus.”
Aku
menatapnya.
“Dave!”
kak Aga berjalan medekati kami. “Maksudmu apa sih? Ini nggak berguna! Nggak ada
tujuan dibalik ini semua!” katanya kesal. Tapi David malah beranjak
meninggalkanku dengan masih memegang bola itu.
“Hh.”
Aga menghembuskan nafas. “Sorry, Dhe. Kita nggak bermaksud buat meng ‘khusus’
kamu. Tapi—”
“Iya,
Kak. aku ngerti, kok. Nggak papa.” Kataku sambil tersenyum.
***
Sepulang
sekolah, aku bermaksud mengambil buku didalam loker. Novel yang aku pinjam
sudah habis masa peminjamannya. Dan aku niatkan untuk mengembalikannya.
Kreet..
Aku
membuka loker itu. disana sudah ada novel yang tertidur dengan rapi. Aku
mengambil novel itu dan kumasukan kedalam tas. Tapi ketika hendak menutup
loker, aku kembali menemukan sebuah surat. Namun kali ini berwarna hijau.
Aku tahu kok, kamu itu emang perempuan
yang nggak gampang nyerah gitu aja. Ambisimu besar, dan ada kemauan yang besar
juga dalam diri kamu. Semangat! Kamu pasti bisa!
Kak
Aga? Aku emang gk nyangka. Kalo dia bisa se-care ini denganku. Ini emang
pertama kalinya aku dapet sura-surat kaleng seperti ini. ini terjadi setelah aku mengikuti ekskul
basket. tiba-tiba pipiku memerah. Darah naik ke kedua pipiku. Membuat pipiku
seperti buah tomat yang siap dipetik. Membayangkan sesosok Aga yang begitu
sayang padaku.
“Cieee…
yang punya penggemar rahasiaa…” kata kakak-kakak kelas yang lewat melewati
lokerku.
“Bu-bukan..”
kataku gugup, nggak bisa nyembunyiin rasa bahagia di hatiku.
Aku
menutup lokerku. Lalu memasukan surat itu dan menutup tasku. dan berjalan
menyusuri lorong untuk pulang kerumah. Namun sebelum itu, aku berniat berjalan
memutar untuk melewati studio basket. entah
kenapa rasanya aku pengen lewat gitu aja.
Saat
aku berjalan beberapa meter dari pintu studio, aku mendengar decitan suara
sepatu dan suara bola basket yang dipantulkan beberapa kali diatas lantai. Aku
melambatkan langkahku. Dan benar, suara itu semakin jelas. Apa ada yang sedang
latihan siang ini? bukannya.. kata Kak Aga hari ini libur?
Aku
mengintip dari pintu dengan celah yang sedikit terbuka. Dan mendapati sesosok
cowok pertubuh tegap sedang melakukan slam-dunk dengan begitu sempurna. Tapi
disatu sisi aku menyesal. Karena bukan kak Aga yang lagi latian..
***
Esoknya
aku benar-benar tidak tahan untuk menanyakan siapa pemilik surat ini, dan apa
maksud dari semua ini. Sepulang sekolah aku mencari Kak Aga. Aku mencarinya ke
seluruh pelosok sekolah. Dikelasnya pun kosong. Dan pikiran ku tertuju pada
studio basket. Ya, mungkin dia lagi ada disana.
Aku
buru-buru mempercepat langkahku. Dan berjalan menuju Studio basket. Aku sampai
di sana. Dan benar, ternyata kak Aga lagi disana dan tentunya bersama Kak
David, dan juga 1 orang pak guru yang memakai peluit di lehernya.
Aku
berjalan menuju tribun atas. menunggu kak Aga selesai latihan.
“Kak
Aga!!” teriaku dari kejauhan. Kak Aga mencari sumber suara itu. dan berhasil
menatap ku. “Sini!” kataku melambaikan tangan. Kak Aga pun menghampiri ku.
Namun sebelum itu kak
David keluar karena suatu alasan. Mungkin ke WC.
“Ada
apa?”
“Aku
mau tanya. Boleh?”
“Boleh,
emang mau tanya apa?”
Mendengar
tanggapan kak Aga aku langsung membuka tasku. dan mengambil surat-surat kelang
itu.
“Ini
punya kakak?” tanyaku memperlihatkan surat itu. kak Aga mengambil surat itu.
namun sebelum membaca ia berkata, “Apa nih?”
Apa?
‘apa nih’? maksudnya?
Aku
buru-buru merampas surat-surat itu dengan cepat.
“Jadi..
itu bukan punya kakak?”
“Bukan.”
Katanya tersenyum.
Aku
langsung menjunjukan wajah *facepalm*.
“Yaudah,
Kak. makasih.” Kataku buru-buru turun dari tribun. Aku jadi merasa bingung. aku
berjalan keluar studio dengan pikiran yang entah kemana.
Surat-surat
itu bukan punya kak Aga? Trus.. siapa?
Aku kembali berjalan memutar. Dan melewati lokerku. Namun langkahku sempat terhenti di sisi tembok. Saat melihat kak David… sedang membuka… lokerku.
Aku
memperhatikan tangannya. Dan benar, aku melihat tangannya menyelipkan sesuatu. Kertas
kecil berwarna biru. Kak David menutup pintunya perlahan. dan ia sempat memperhatikan
sekitar. Namun aku buru-buru bersembunyi di balik tembok.
Aku kembali mengintip. Dan ternyata ia berjalan ke lain sisi dan tidak berpapasan denganku. Aku buru-buru menghampiri lokerku. Dan benar, aku menemukan surat yang sempat aku perhatikan tadi.
Aku kembali mengintip. Dan ternyata ia berjalan ke lain sisi dan tidak berpapasan denganku. Aku buru-buru menghampiri lokerku. Dan benar, aku menemukan surat yang sempat aku perhatikan tadi.
Aku
gk nyangka, kalau orang yang selama ini care sama itu bukanlah Aga, tapi David.
Sebelumnya aku emang gk tahu kalo David yang suka sama aku, tapi Aga. Aga
termasuk orang yang terbuka, beda dengan David. Yang cuek dan dingin. Aga lebih
hangat dan care. Apa David pemalu? atau… gengsi?
***
Hari
ini ada pensi disekolahku. Dengan panggung megah dan besar. Banyak siswa-siwsi
yang mengisi pensi sesuai dengan bakat yang mereka punya. Namun aku hanya
terduduk di kursi hijau plastiku. Menonton para kakak-kakak kelas yang tampil
mengisi acara.
Tiba-tiba pandanganku tetuju
pada barisan penonton paling depan. Disana, aku melihat Kak David yang sedang
memfoto seperti photographer. Dengan pakaian batik dan celana panjang coklat.
Aku
masih membawa suratku. Dan keinginanku sudah bulat untuk menanyakan tentang hal
ini pada David.
Acara
selesai sekitar jam setengah lima sore. Semua orang meninggalkan tempatnya dan
berjalan keluar sekolah. Namun aku masih berada disana dan mencari David di
kerumunan orang seperti ini. aku terdiam di tempatku. Memperhatikan sekitar.
Dan BINGGO! Aku melihatnya. Ia sedang berjalan naik seorang diri ke lantai
atas.
Aku
menyusulnya. Mengekor di belakangnya dengan sembunyi-sembunyi. Aku kembali
mencarinya. Langkahnya begitu cepat. Namun aku menyadari kalau dia telah berada
di atap gedung sekolah yang beratap datar. Aku segera menyusulnya.
Aku menatapnya dari jauh. Mentatap punggungnya yang sedang memotret sunset tampaknya. Pemandangan disini gk terlalu buruk. Lebih luas dan bisa ngeliat sunset tampa terhalang apapun. Dan akupun menghampirinya.
“Kak.”
Dia
tersentak. Seperti terkejut karena tidak menyadari kalau aku sudah berada di
belakangnya. Ia membalikan badan. Dan menatapku dengan tatapan seperti biasa.
Dingin..
“Apa?”
jawabnya tanpa menatapku. Ia hanya terus memotret seperti menghiraukanku.
Aku
udah muak. Dan aku langsung pada permasalahan. To the point.
“Ini
punyamu?” aku menodongkan surat itu.
Ia
tampak terkejut. Namun balasannya tidak sesuai dengan ekspressi wajahnya.
“Bukan, itu bukan punya ku.” Katanya menutupi. Lalu kembali memotret.
“Udah
deh kak! gausah bohong! Aku tahu, kok. Kakak yang naroh surat ini di lokerku
kan?!” kataku sedikit nyolot.
“…”
“Aku
liat waktu itu. Kakak diem-diem naroh surat ini di lokerku. Pertama emang aku
gk nyangka. Aku kira Kak Aga, tpi ternyata kamu.” jelasku. David cuman diem. Gk
ngasih respon apapun.
“Masih
nggak ngaku juga? Yaudah.” Kataku berpaling dan beranjak ingin pergi. Namun lenganku
di genggam kuat olehnya dengan cepat. “Dhea tunggu!”
Aku
menatapnya dengan tatapan kesal.
“Hh..
gue suka sama lo.”
Raut
mukaku berubah. Mataku membulat dan alisku terangkat.
“Gue
emang gk terlalu kenal sama lo. Tapi gue liat kemauan dan ambisi lo yang begitu
besar. Dan gue yakin, dengan perantara Aga gue bisa tau kalo lo adalah cewek yg
baik.”
“Jadi
bener? Kakak yang naroh surat ini?”
David
menunduk, lalu kembali menengadahkan kepalanya. “Ya.”
“Dan
gue pengen… lo mau, jadi pacar gue?”
aku termenung…
David emang orang yang nyebelin. Tapi dengan keberadaan surat-surat itu, David udah nunjukin sifa aslinya. Dia orang yang care, penyayang, dan mungkin… dia bisa jadi patner aku yang baik.
“Nggak.”
David
mengerutkan keningnya.
“Aku
nggak nolak.” Kataku memamerkan deretan gigi putihku.
[Petra
Sihombing – Mine]
END
=========================================================================

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
jangan lupa komentarnya