OPENING PICTURE
Hahaha ini pertama kalinya aku bikin cerbung loh, wkwk.
Sebenernya si bukan pertama kali, tapi udah berkali-kali tapi gagal mulu,
wkwkwk. Kali ini aku mau ngenalin kalian tokoh-tokoh yang aku buat dalam
cerbung ini. Oya, sebelumnya aku minta maaf kalo ada kesamaan NAMA TOKOH,
TEMPAT, ALUR CERITA, dsb, hehehe. Maklum manusia kan gada yang sempurna, jadi
kalo ada kesamaan-kesamaan diatas mohon dimaklumi dan di maafkan :D. oke kita
langsung saja ke tokoh yang pertama :
Adit
tokoh yang pertama aku sebutin itu Adit. Adit itu anaknya simple, baik, dan smart. Dan saking smartnya dia pernah peringkat 1 paralel di sekolah. Dia juga ganteng, kulitnya yang putih, rambutnya yang coklat gelap, dan sikapnya yang kalem, membuat para gadis-gadis suka sama dia. apa lagi dia anak orang kaya. Walaupun dia kaya, tapi dia nggak pernah sombong. Apalagi ngebanggain harta orang tuanya. Oya, si Adit ini adalah tokoh utama di cerbung ini, hehe.
tokoh yang pertama aku sebutin itu Adit. Adit itu anaknya simple, baik, dan smart. Dan saking smartnya dia pernah peringkat 1 paralel di sekolah. Dia juga ganteng, kulitnya yang putih, rambutnya yang coklat gelap, dan sikapnya yang kalem, membuat para gadis-gadis suka sama dia. apa lagi dia anak orang kaya. Walaupun dia kaya, tapi dia nggak pernah sombong. Apalagi ngebanggain harta orang tuanya. Oya, si Adit ini adalah tokoh utama di cerbung ini, hehe.
Dyo
Si Dyo itu anaknya baik, cool, simple, juga perhatian. Rambutnya hitam gelap, kulitnya putih susu, warna matanya yang agak kecoklatan, dan dia juga jago masak, hahaha. Jarang-jarangkan ada cowok yang jago masak. Anaknya juga ganteng, tapi sayang dia agak pemalu. Pernah suatu saat, dia itu suka sama cewek, dan dia itu udah lama banget sukanya. Tapi karena dia malu dan kelamaan ngungkapin perasaannya ke cewek itu, dia udah keduluan sama cowok lain. Dan hal itu yang membuat kawan Adit ini patah hati. Sampe-sampe dia mogok makan cuman gara-gara hal seperti itu, wkwkwkwk.
Si Dyo itu anaknya baik, cool, simple, juga perhatian. Rambutnya hitam gelap, kulitnya putih susu, warna matanya yang agak kecoklatan, dan dia juga jago masak, hahaha. Jarang-jarangkan ada cowok yang jago masak. Anaknya juga ganteng, tapi sayang dia agak pemalu. Pernah suatu saat, dia itu suka sama cewek, dan dia itu udah lama banget sukanya. Tapi karena dia malu dan kelamaan ngungkapin perasaannya ke cewek itu, dia udah keduluan sama cowok lain. Dan hal itu yang membuat kawan Adit ini patah hati. Sampe-sampe dia mogok makan cuman gara-gara hal seperti itu, wkwkwkwk.
Adam
Tokoh yang ketiga ini namanya Adam. Anaknya ganteng yang pasti, cool, maco, putih, dan pendiem, banget malah. Dia anaknya nggak suka ngomong, becanda aja jarang. Apalagi kalo ditanya pasti jawabnya setengah-setengah, nggak pernah tuntas gitu. Dia juga kalo ngomong langsung to the point, langung pada permasalahan. Dia juga nggak pernah ngasih embel-embel berbasa-basi pada ucapannya itu. pasti langsung to the point. Tapi gini-gini dia juga pinter loh, apalagi dia peringkat 2. DI-KELAS, hahahaha. Hus! ketawanya jangan keras-keras, nanti kedengeran sama orangnya lohh! XD
Tokoh yang ketiga ini namanya Adam. Anaknya ganteng yang pasti, cool, maco, putih, dan pendiem, banget malah. Dia anaknya nggak suka ngomong, becanda aja jarang. Apalagi kalo ditanya pasti jawabnya setengah-setengah, nggak pernah tuntas gitu. Dia juga kalo ngomong langsung to the point, langung pada permasalahan. Dia juga nggak pernah ngasih embel-embel berbasa-basi pada ucapannya itu. pasti langsung to the point. Tapi gini-gini dia juga pinter loh, apalagi dia peringkat 2. DI-KELAS, hahahaha. Hus! ketawanya jangan keras-keras, nanti kedengeran sama orangnya lohh! XD
Oke, kita beralih ke tokoh perempuan :
Angle
Anaknya baik, cantik, juga perhatian. Rambut panjang, kulit putih, dan suka rempong kalo masalah make up, hahaha. Tapi dia pinter lho, relative si, wkwk.
Anaknya baik, cantik, juga perhatian. Rambut panjang, kulit putih, dan suka rempong kalo masalah make up, hahaha. Tapi dia pinter lho, relative si, wkwk.
Monica
Dan… tokoh yang terakhir ini namanya Monica. Monica ini anaknya baik, cantik, kulit putih, langsing, rambut panjang dengan ujung mengikal, dannn pake kacamata gitu... Selain itu, dia juga jago nyanyi. Suaranya itu bagus, dan ada ciri khasnya. Ada vibrasinya gitu, apalagi kalo nada tinggi, bbeehhhh… keren dah pokoknya, hahaha.
Dan… tokoh yang terakhir ini namanya Monica. Monica ini anaknya baik, cantik, kulit putih, langsing, rambut panjang dengan ujung mengikal, dannn pake kacamata gitu... Selain itu, dia juga jago nyanyi. Suaranya itu bagus, dan ada ciri khasnya. Ada vibrasinya gitu, apalagi kalo nada tinggi, bbeehhhh… keren dah pokoknya, hahaha.
Sebenernya masih banyak sih tokoh-tokohnya, tapi biar
surprise gitu.. hahaha. :D okay langsung saja kita ke cerita.
L O V E I N S U M M E R
Chapter 1
“Kiri! Kanan-kanan! Maju sedikit!” suara Mamah menggema di setiap ruangan. Hari ini adalah hari dimana gue pindah rumah. Sebenernya gue tidak menginginkan ini, tapi karena urusan pekerjaan bokap, gue rela dan mengiyakan ajakan ortu gue itu. “Dit ngapain disitu? Ayo bantuin Mamah?” Ajak Mamah ke gue yang lagi nyante di sofa dan baru diangkut dari trek. “Nanti ah, mah. Adit capek.” Jawab gue malas. Memang, hampir 12 jam perjalanan itu melelahkan, apalagi harus naik turun kapal dan pesawat. Gue memasangkan handfree ke telinga lalu memutar lagu pop kesukaan gue. Hari ini juga, gue resmi pindah dari sekolah gue yang dulu. Dan ini bukan pertama kalinya gue pindah sekolah dan pindah rumah, namun sudah berkali-kali. tapi hal ini sudah biasa bagi gue, haha.
Setelah selesai
beres-beres, banyak tetangga yang mampir ke rumah gue ini. Banyak yang bilang
rumahnya bagus, luas, tapi catnya udah pada nglupas. Dan mereka menerima
keberadaan kami ini dengan senang hati. Tapi gue sempet bingung ama salah satu
dari mereka. Ada salah satu ibu-ibu yang ngliatin gue mulu. Apa kagum mungkin,
atau dia pengen punya anak kayak gue, atau bisa juga karena si Ibu terpesona
liat ke imutan muka gue? hahahaha… just
kidding, broo..
Malemnya gue makan malam di ruang tengah bareng nyokap ma
bokap. Karena ruang makannya belum jadi, jadi kita makan malam diruang tengah dulu
untuk sementara.
“Dit, kamu udah siapin semua perlengkapan kamu?” tanya Papah
sambil mengambil sop ayam ke piringnya.
“Udah Pah.” Jawab gue simpel sambil terus fokus ke sesi
makan gue.
“Owhhh.. bagus lah kalo gitu. Oya, besok hari pertama kamu
masuk sekolah, kamu dianter sama Pak Joko dulu.”
“Iya, Pah.”
Suasana hening sejenak.
“Dit, menurut kamu, rumah disini nyaman nggak?” tanya Mamah
yang udah selese makan.
“Nyaman kok Mah, apalagi tetangga-tetangga juga keliatan
baik.” Gue menyampaikan mendapat.
“Hmmm, yaudah kalo gitu. Habis itu masuk kamar, trus tidur.”
Kata Mamah sambil mengambil piring gue dan Papah, lalu menumpuknya menjadi
satu.
Gue masuk kamar sambil ngotak-atik HP. Dan benar saja, aja
sms yang masuk ke HP gue.
Reza
28-02-2012
21.15
28-02-2012
21.15
Dit, gimana rumah
barunya? Enak?
Haha, ternyata itu dari Reza. Kakak gue yang lagi kerja di
luar kota, makanya dia nggak ikut bantu-bantu beresin rumah. Oya, gue nggak
pernah manggil dia pake embel-embel kakak.
Udah biasa aja dari kecil, tapi dia
nggak marah kok gue panggil ke gitu, hahaha.
to :Reza
28-02-2012
21.16
28-02-2012
21.16
Yoi, banget malah.
Tetangga juga seneng kita pindah kesini. BTW lo kapan balik?
Gue kembali menunggu. Dan…
Reza
28-02-2012
21.16
28-02-2012
21.16
Bagus lah kalo gitu.
Kapan-kapan gua balik deh, masih banyak kerjaan soalnya. Oya, keadaan
Papah-Mamah gimana?
Gue kembali mengetik…
to : Reza
28-02-2012
21.17
28-02-2012
21.17
Papah-Mamah baik-baik
aja kok. Lo sendiri begimane disono hah? Hahaha
Tak lama kemudian…
Reza
28-02-2012
21.17
28-02-2012
21.17
Gua baik-baik aja kok.
Udah dulu ya,, gua mau istirahat dulu. Salam buat Papah-Mamah disana. Bye…
Itu sms singkat yang gue dapet dari Reza. Yahhh.. emang
kegitu kalo kita sms. Nggak pernah sampe
yang 10 menit atopun satu jam lebih, pasti selalu singkat tapi padat. Mungkin
dia habis pulang kerja makanya dia nggak mau memperpanjang sesi sms kita karena
bisa membuatnya stresss ato semacamnya, hahaha. Gue menaikan selimut dan mematikan
lampu kamar, lalu tertidur lelap untuk hari yang lebih baik.
***
Yup, hari ini adalah hari pertama gue masuk sekolah. perasaan
berdebar muncul di dalam benak gue. Antara gugup, bimbang, cemas, senang juga,
semua itu bercampur menjadi satu, membuat gue ini berkeringat dingin.
Saat di gerbang sekolah, pikiran gue ini mulai campur aduk.
Gue diliatin anak-anak yang ada disitu. Namun, gue nggak diem gitu aja. Gue terus
melangkah, sambil mencoba tuk percaya diri. Dan gue temui Bu Ranti yang mungkin
sedari tadi sudah nungguin gue disini.
“Maaf Bu, saya terlambat.” Kata gue sambil mengatur nafas.
“Ohh engga, kok. Mari
ibu antar.” Ajak Bu Ranti dengan ramah.
Di perjalanan Bu Ranti mengantar gue, gue terus menunduk dan fokus dengan jalan yang gue lalui itu. gue belum berani natap satu persatu mata
mereka. Apalagi gue ini bukan tipe orang yang mudah bergaul dengan lingkungan
baru.
“Anak-anak harap tenang!!”
Bu Ranti menenangkan suasana kelas yang begitu ramai. “Hari ini kalian
akan mendapat teman baru. Dan otomatis kelas kalian akan bertambah menjadi 30
orang.” Selagi Bu Ranti berbicara, gue terus menunduk menghadap lantai dengan
perasaan canggung.
“Adit, silahkan perkenalkan diri kamu.” Bu Ranti berbicara
dengan sangat perlahan.
“okay.” Gumam gue kecil. Gue mengangkat kepala dan menatap
mereka semua. Ternyata mereka udah penasaran sama gue, keliatan banget dari
mukanya.
“H-hay, nama gue Adit. Gue pindahan dari SMA TARUNA BANGSA.
Rumah gue di Jalan Soekarno-Hatta Nomer 27.” Terang gue singkat. Jidat gue berkeringat
hebat. Mampus dah!
“Okay, Adit. Sekarang kamu boleh duduk di tempat yang masih
kosong.”
“Baik, Bu.”
Gue mulai mencari bangku yang kosong. Dan gue nemu bangku
yang lumayan belakang. “Baik anak-anak, sebenarnya hari ini tidak ada materi
pelajaran apapun. Namun, ibu di haruskan mengisi dua jam pelajaran ini dengan
sedikit evaluasi dan pengayaan.” Selagi Bu Ranti berargumen, gue merhatiin tata
letak ruangan yang lumayan bagus dan nyaman ini.
“Hai.” Sapa seseorang
yang ada disebelah gue.
“Gue Dyo.” Katanya sambil menjulurkan tangan.
“Gue Adit.” Gue membalas sapaan tangannya.
“Gue Dyo.” Katanya sambil menjulurkan tangan.
“Gue Adit.” Gue membalas sapaan tangannya.
Pertama gue liat Dyo, kesan gue itu baik, sopan, santun juga, trus apalagi yah? Itu deh pokoknya.
Dan gue merasa lebih rileks sekarang ini. Walaupun masih ada rasa canggung
sedikit.
Setelah 2 jam
evaluasi dan pengayaan, akhirnya kita istirahat juga. Banyak anak-anak yang
udah keluar kelas, tapi gue memilih untuk diam dan menunggu bell masuk kembali
tiba. Dyo masuk dengan memainkan smartphone-nya
yang berwarna hitam. “Loh? Lo nggak jajan?” tanya Dyo. “Engga, makasih. Gue
nggak laper.” “Beneran nih
nggak laper? Ato masih malu-malu?” Dyo mencoba membuat suasana ‘canda’. Namun tidak
berlaku bagi gue, gue hanya membalasnya dengan senyuman. Lalu dateng satu cewek yang bisa dibilang
centil, juga periang. Keliatan banget dari cara jalannya.
“Hai, Dyo…” sapa cewek itu dengan nada riang. “ lo nggak jajan?”
“Udah, kok. Kenapa? Lo nggak liat gue habis dari kantin?”
“Ah masa? Hehe.. iya, gue nggak ngeliat elo.”
“Dasar cewek aneh.”
Setelah mereka bercandaa, cewek itu ngeliat gue, lalu
bebisik-bisik sama si Dyo.
“Oya gue lupa. Dit kenalin ini Angle, anak kelas 11Ipa 5. Angle,
ini Adit.” Kata Dyo memperkenalkan kita berdua.
“Hai… gue Angle…” katanya menjulurkan tangan.
“Gue Adit.” Dan gue membalas sapaan tangannya.
“Lo itu anak baru ya?”
Gue mau ngejawab, tapi udah keduluan sama Dyo, “Yaelah,
Ngle... Dah tau dia anak baru, masih nanya aja lo, aneh.”
“Bisa diem napa si?” bales Angle sambil menepuk kasar bahu
Dyo, dan gue cuman ketawa kecil. “Hehe…
maaf ya Dit, temen lo ini emang rada sewot.” Lanjutnya. Setelah sekian lama
kita ngobrol-ngobrol banyak dan sedikit pendekatan……. “teeeeeeettt……
teeeeetttt… teeeeettttt…” bel masuk pun berbunyi.
“Bye… Dyoo… bye Adit…” pamitnya dengan nada yang sama kayak
pertama masuk kelas tadi.
Para siswa pun masuk kelas dengan sangat tertib. Dan duduk
dibangku masing-masing.
***
“assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam… eh kok kamu udah pulang… gimana sekolahnya?”
tanya Mamah yang lagi nonton tv di ruang tengah.
“Yaaa.. gitu lah mah..”
“Kok gitu? Gitu gimana?”
“Yaaaa.. mungkinn
Adit belum beradaptasi aja mah, nanti juga Adit terbiasa kok.”
“Beneran kamu nggak papa?” tanya Mamah meyakinkan.
“Iya mahh…”
“Yaudah kalo gitu. Gantu baju, habis itu makan. Bi Sumi udah
bikin sop ayam kesukaan kamu.”
“Iya Mahh.” Gue meng-iyakan.
Lalu gue melangkah perlahan menuju kamar dan berganti
pakainan. Hari ini lumayan mendung,
silau matahari terhalang oleh awan gelap yang muncul dari arah barat. Biasanya si kalau kegini gue main sama Kaokao,
burung kakak tua kesayangan gue. Tapi gue lagi males, pengen nyantai dulu di kamar.
Setelah makan siang, sorenya gue nge-jogging, walaupun
biasanya pagi-pagi. Dan kali ini gue muterin komplek doang, nggak sampe jalan
raya. Karena udah terbiasa, jadinya gue jarang cape. Oya, ternyata gue nggak
sendirian. Banyak juga yang jogging sore-sore gini. Walaupun cuaca kurang
mendukung, tapi hal itu tidak menyurutkan niat mereka untuk hidup sehat, hehe.
Gue terus fokus sama olahraga gue ini, dan karena gue saking fokusnya….. gue…….
BRAK!!!
“Awwww…”
Gue tabrakan sama cewek..!!
“Awww… heh lo! Lo
punya mata nggak sih??!!” omel cewek itu.
“sori, gue nggak sengaja.”
“Nggak sengaja gimana? Tuhh liat! Handphone gue jatuh,
kan?!”
“Tapi, g-gue kan nggak sengaja…”
Cewek itu nggak jawab apa-apa, lalu ngambil handphonenya
yang jatuh, menatap gue sejenak, lalu pergi dengan meninggalkan jawaban kosong.
Rasa bersalah muncul dari hati gue. Bayangin aja, 2 hari pindahan aja gue udah
dapet masalah kecil kayak gini? Ckckck. Oya,
ciri-ciri cewek yang tadi itu… cantik, tinggi, rambut panjang, dan pake
kacamata gitu. Gue nggak tau namanya siapa. Apa boleh buat, gue melanjutkan
jogging gue yang sempat terhenti itu.
***
“Teeeeeeettttt… teeeeeeeettt….. teeeeeetttt….!!” Bel istirahat pertama pun berbunyi. Seperti
biasa, gue cuman duduk dan mlongo sambil gambar-gambar nggak jelas dihalaman
buku paling belakang. Rasa suntuk dan bete menyelubungi gue di siang itu. Tapi
semua itu berlangsung tidak lama, sampai
Dyo nyamperin gue dan ngajak gue ke kantin bareng. “Bro, kantin nyok?” ajaknya. “Males, ah. Lo
aja sanah, gue sini aja.” jawab gue sambil bertopang dagu. “Ck! Apa lo nggak
bosen apa? Bengong disini sendirian? Kalo gue mah udah mati kutu dulu mungkin.”
Katanya sambil mengangkat pantatnya, dan duduk diatas meja.
“Lo aja deh…”
“Kenapa? Malu? Yaelah.. gausah malu lagi… nyantai aja…” kata
Dyo meyakinkan gue.
“…” gue cuman menggelengkan kepala.
“Come on… “
“Hmmmm,, tapi sebentar aja yaa..” kata gue sambil beranjak
dari tempat duduk.
“Okay.. gitu dong dari tadii… yuk!” kitapun pergi keluar kelas.
Akhirnya gue jalan ke
kantin dengan Dyo yang melangkah lebih dulu didepan. Saat itu suasana kantin
sangat ramai, jalanpun harus miring karena dimana-mana ada tubuh yang
menghimpit. Setelah melalui perjuangan yang berat, akhirnya kita nemu tempat
duduk yang masih kosong. Tapi letaknya rada jauh dari tempat pesenan. Lebih
tepatnya dipinggir.
“Mbak!” teriak Dyo sambil mengangkat tangannya. “Ck! Rame banget sih ni kantin.” Gerutu
Dyo. Gue cuman ngeliat kanan-kiri dan memperhatikan setiap orang yang lewat
didepan meja gue, tanpa menanggapi Dyo. “Eh
lo sini dulu ya, gue mau pesen makanan dulu.”
Dan gue cuman ngangguk-ngangguk. Gue heran deh, kenapa kantinnya nggak
dibikin dua aja. Yaa… walaupun ini udah cukup luas, tapi kayaknya masih sempit
aja tuh, gada bedanya. Kantinnya juga bersih, rapi, dan gada yang berani buang
sampah sembarangan. Lo tau kenapa? Karena… kalo lo buang sampah satu sobekan
kertaspun.. lo bakal di denda 20 ribu. Rugi kan lo? Tapi menurut gue itu
tindakan yang bagus siiii, heheee. Apa lagi buat gue yang ‘cinta akan
kebersihan’, asseekkk.
Dua menit kemudian…
Dyo dateng sambil bawa nampan yang diatasnya ada dua
mangkok, gatau deh isinya apa.
“Nih. ini buat lo…. Dan ini buat gue.” Dyo meletakan satu
mangkok berisikan bakso didepan gue.
“Loh? Tapi kan gue nggak pesen?” tanya gue heran.
“Udahhh, tenang aja… gue traktir dehhh..”
“Ehhh.. gausah-gausah, gue bisa bayar sendiri kok.”
“Udahhh.. terima aja… ini rejeki buat loo….. oya, nanti es
tehnya dateng kok.” Kata Dyo yang lagi ngunyah bakso. Gue garuk-garuk kepala, “Thanks.” Ungkap gue ragu, karna
ngrasa gaenak sama si Dyo. “Hmmm..” dia
mengacungkan jempolnya tanpa menatap gue. kitapun makan bersama tanpa ada
perbincangan apa pun, sampai ada cewek yang nanyain Dyo, gue pura-pura gtw dan berusaha nggak ngeliat
tuh cewek.
“Heh, Yo. Jadi nggak nihhh..?” tanya cewek itu.
“Jadi…. nyantai aja lagi.”
“mmmm.. Okay.”
Tapi….. ZEEBBB…!! Gue bertatapan mata sama si tu cewek, dan
ternyata orang yang nggak sengaja gue tabrak kemaren sore.
“Elo??” tanya cewek itu keheranan.
“Elo??” gue mengulangi kata yang sama dengannya.
“Ngapain lo disini hah?!”
“Lo ngapain disini?”
“Gue sekolah dongg... apa lagi.” Jawab cewek itu sok angkuh.
“Sama, gue juga.”
“Wait. Kalian
berdua.. udah saling kenal?” Dyo mengambil alih.
“……..” gada satu pun dari kita yang berusaha untuk menjawab.
“Heh, gue tanya… ih
kalian berdua ngedengerin gue kagak sih? Lo lagi Mon…”
‘hah?? Mon… monkey maksudnya?? Wkwkwkwk…‘ bual gue dalam hati.
‘hah?? Mon… monkey maksudnya?? Wkwkwkwk…‘ bual gue dalam hati.
“Eh lo! Ngapain lo nyengir-nyengir gitu, hah?” omel cewek itu sambil ngelempar tisu ke muka
gue.
“Ck! Udah dehh.. lebay tau nggak? Emang kalian ini ada apa
sihhh? Ada masalah sebelumnya.” Tanya Dyo kepo.
“Okay! Fine.. gue minta maaf karena kejadian sore itu.” gue
berusaha membuat nuansa persahabatan.
“Jangan minta maaf doang.. benerin tuh HP…” kata cewek itu sambil melipat tangan di depan
dadanya.
“Okay, mana sinih HP lo?”
“Nggak gue bawa.” Jawab cewek itu singkat.
“Guys, kalian kenapa sih? Udah kenal sebelumnya? Ato
gimanaa..??” ke-kepoan Dyo semakin menjadi-jadi.
“Gue ngerusak HPnya dia.” ungkap gue jujur.
“Kok bisa?”
“Yaaa gitu lah.” Ungkap gue singkat sambil nyruput es teh
manis. “Gini deh, dari pada masalahnya
nggak selesai-selesai, trus malah tambah
ribet….besok.. lo bawa tuh HP… trus kasihin deh ke gue.. okay?” tawar gue ke cewek
itu.
“Mau lo apain?” kata cewek itu sambil mengangkat satu
alisnya.
“Mau gue jual!.” Seketika juga mata cewek itu melotot bulat. “Ya
mau gue benerin lahh.. gimana sih lo?”
“Deal?” lanjut gue.
“….” Jiahhh malah mikir lagi tuh orang.
“Mau gue benerin kagak….”
“Eh lo anak baru sewot banget ya?!” katanya. “Yaudah, deal.”
Lanjutnya setuju, dan kitapun berjabatan tangan.
“Besok ya? jangan lupa bawa tuh HP…..”
“Iyaaa… ah.. bawel deh.”
Setelah itu dia pergi buat masuk kelas. Gue sama Dyo
duduk-duduk dulu sambil nyritain apa yang gue alamin waktu kemaren sore. Sampai
bell masuk pun berbunyi.
***
“Pah, besok Adit boleh bawa motor nggak?” gue memulai
percakapan di malam itu.
“Boleh, asal bisa jaga aja.”
jawab bokap sambil mencet-mencet remot Tv.
“Bisa lah Pahhh..”
“Hmmm.. yaudah kalo gitu. Besok kamu boleh bawa motor.”
“Yang bener Pah??! Aseekkk..” ungkap gue kegirangan.
“Yaudah.. kamu tidur sanah, nanti kesiangan loh bangunnya.”
Akhirnya gue beranjak dari sofa dan melangkah perlahan
menuju kamar untuk tidur. Sebelum itu, seperti biasa gue melakukan sebuah
ritual 'Sebelum Tidur'. Yaituu cuci muka, dan berdoa, hehe… good
night all, good night world, have a nice dream J
to be continued…
Chapter 2…
Chapter 2…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
jangan lupa komentarnya