sumber : https//exofanfiction.wordpress.com
Suasana siang itu tidak terlalu terang. Do Kyungsoo menikmati
langkahnya di sepanjang taman kota sambil memerhatikan beberapa pernak-pernik.
Setangkai bunga bermahkota pink dalam genggamannya sesekali dilihatnya.
Beberapa ahjumma tersenyum
ramah kepadanya, menyapanya untuk singgah melihat-lihat barang dagangan yang
tertata rapi di meja panjang. Kyungsoo hanya tersenyum, menolak secara halus
sambil menggeleng dan membungkuk pelan. Ia terus berjalan pelan dan ketika ia
tiba di tempat tujuannya, tiba-tiba hatinya kembali terkoyak. Tepat di samping
sebuah toko gingerbread, Kyungsoo berlutut. Pandangannya kosong untuk beberapa
waktu yang lama sampai akhirnya ia dengan rela meletakkan bunga di aspal. Sudah
setahun berlalu…
Pikiran Kyungsoo dibuyarkan oleh gumpalan kecil putih dingin nan
lembut berjatuhan. Oh, the first snow! Ia dan seluruh manusia di sekitarnya
serentak menengadah sambil tersenyum. Persis seperti tahun lalu. Apa ini bentuk
sapaan darinya?
“Oppa datang menemuimu.”
Last year…
“Aigu, punggungku!” keluh Kai.
Kyungsoo yang melihatnya hanya tersenyum. Ia dan band-nya seperti
biasa menerima tepuk tangan meriah dari orang-orang yang lalu lalang di sekitar
taman kota. Kyungsoo lalu melirik isi wadah di bawahnya. Penghasilan hari ini
cukup lumayan daripada kemarin. Tidak ada tempat sebagus di sini untuk mencari
uang dengan bernyanyi. Baekhyun mengambil wadah di depan dengan wajah berseri.
“Hyung, berapa jumlahnya?” tanya
Sehun yang tengah membereskan gitar teman-temannya usai tampil.
“Wuihh
setidaknya cukup untuk makan selama tiga hari untuk enam orang,” jawab Baekhyun
riang.
“Eishh
kau bilang itu cukup?” balas Suho dengan alis terangkat.
“Setidaknya aku bisa beli kue untuk adikku malam ini haha…”
Baekhyun terkekeh. “Baiklah, saatnya pembagian gaji! Ini untuk Suho hyung, Yeol, ini
untukmu. Lalu, Kyungsoo ya… odiya?
“Dia
sudah pulang duluan seperti biasa,” jawab Chanyeol, mengarahkan jempolnya ke
arah Kyungsoo yang sudah berjalan menjauh di ujung sana.
Kyungsoo
tahu kalau teman-temannya pasti sedang menatapnya dari kejauhan. Tapi
menurutnya, memang hal itu yang terbaik. Ia sama sekali tidak tertarik dengan
uang pemberian orang-orang yang menyaksikan penampilan mereka. Baginya, Suho,
Baekhyun, Chanyeol, Kai, dan Sehun lebih membutuhkan uang tersebut. Jangankan
biaya sekolah, biaya untuk makan pun sering menjadi masalah bagi mereka.
Seringkali mereka memaksa agar Kyungsoo mau menerima uang hasil pembagian
karena merasa tidak enak hati. Tidak ingin berdebat, sudah menjadi kebiasaan
Kyungsoo yang pergi begitu saja usai tampil.
Langkah
Kyungsoo terhenti di depan sebuah toko gingerbread. Bukan karena aroma jahe
hangat yang keluar dari toko tersebut, melainkan karena anak kecil yang
dilihatnya. Anak perempuan mungil berambut panjang kecoklatan. Berapa umurnya? Lima
tahun? Enam? Anak dengan pakaian usang yang dikenakannya sejak tadi hanya
berdiri di samping toko. Anak itu memerhatikan setiap pengunjung yang keluar
toko yang memeluk bungkusan kertas gingerbread. Tatapan mata anak itu, seperti
menginginkan sesuatu. Anak itu tertunduk.
Kyungsoo
dengan iseng bersiul, lewat di depan gadis kecil itu lalu memasuki toko.
Kyungsoo membeli beberapa buah gingerbread dan saat mengantri di kasir, ia
melirik ke arah jendela besar toko. Gadis kecil itu menatapnya dari jauh dengan
wajah polosnya. Begitu Kyungsoo mengeluarkan uang dari dompet ketika hendak
membayar, Kyungsoo tersenyum, baru mengerti keadaan yang sebenarnya.
Begitu
ia keluar toko, anak itu bersembunyi di balik pagar kayu pembatas agar tak
terlihat olehnya. Kyungsoo tertawa geli dan menghampirinya. Ia duduk berlutut,
menyamakan tinggi badannya dengan anak itu. Tiba-tiba ia menyodorkan bungkusan
gingerbread itu kepada gadis kecil di depannya.
“Ambillah,”
kata Kyungsoo lembut.
“…untukku? Jinjjaeyo?” jawabnya malu-malu.
“Ne, oppa sengaja belikan ini untukmu.”
“Oppa kamsahamnida!”
Kyungsoo
bisa melihat jelas perubahan ekspresi anak itu yang langsung berbinar.
Senyumannya membuatnya terlihat bak malaikat kecil. Hati Kyungsoo seakan
lapang, tenteram, dan ikut senang.
“Kenapa
kau sendirian di sini?” tanya Kyungsoo lagi.
“Aku
menunggu kakakku selesai bekerja,” jawab gadis itu dengan mulut penuh remah
gingerbread. “Kakakku seorang penyanyi jalanan. Suaranya merdu.”
“Orangtuamu
dimana?” Kyungsoo mengelap bibir anak itu dengan ujung jarinya.
“Mereka
ada di surga.”
Mendengar jawaban anak itu membuat Kyungsoo menghentikan niatnya
untuk bertanya lebih jauh. Ia lebih memilih ikut tersenyum. Tiba-tiba beberapa
benda putih kecil ringan berjatuhan dari langit. Ohh, the first snow! Kedua
orang itu pun menengadah. Sang gadis kecil terlihat begitu bersemangat
melambai-lambaikan tangannya ke udara, menikmati salju pertama.
***
Untuk
kesekian kalinya lagi-lagi Kyungsoo langsung beranjak dari tempatnya tanpa
menerima uang pembagian. Teman-teman Kyungsoo kini tidak tahan lagi. Biar
bagaimana pun, Kyungsoo tetap harus memperoleh bayaran. Tidak peduli seberapa
keras ia menolak, ia harus tetap mau menerimanya. Kini para member menghadang
jalannya.
“Aku
bukannya mau menolak uang itu, tapi aku buru-buru sekarang. Ada seseorang yang
ingin kutemui,” ujar Kyungsoo terkesan mencari-cari alasan
“Itu
bukan alasan. Memangnya siapa orangnya? Pacar barumu?” goda Suho yang langsung
disambut tawa oleh yang lainnya.
“Aniya!” Kyungsoo memutar bola
matanya.
Tidak
ada yang mampu melawan sifat keras kepalanya, akhirnya mereka membiarkan
Kyungsoo pergi. Kyungsoo berlari-lari kecil menyusuri sepanjang taman kota
menuju tempat di depan toko gingerbread. Suhu udara kembali menurun. Ia
menengadah. Sepertinya sebentar lagi akan turun salju dan dugaannya benar.
Begitu ia melihat sosok anak kecil yang duduk sendirian di bangku taman di
antara orang-orang yang lalu lalang, bibirnya terlukis senyuman.
“Oppaaaa…”
teriak anak itu girang dengan suara melengkingnya sambil melambaikan tangan.
Anak
itu memeluk kedua kaki Kyungsoo erat. Kyungsoo balas menyambutnya dengan
membelai lembut kepalanya. Mereka berdua kembali duduk di bangku taman setelah
Kyungsoo menyodorkannya segelas coklat hangat dari mesin penjual minuman.
“Coklatnya
enak?” tanya Kyungsoo ramah.
“Ne!”
Di
tengah udara dingin tersebut, Kyungsoo diselimuti oleh kehangatan hanya dengan
melihat tingkah lucu gadis mungil itu. Perhatiannya lalu tertuju pada baju
hangat anak itu yang sudah menipis, lusuh, dan usang. Anak itu bahkan tidak
memakai sarung tangan. Kyungsoo lalu melingkarkan syal dari lehernya ke gadis
kecil tersebut. Ia juga memakaikan sarung tangannya agar anak itu tidak
kedinginan. Ia lalu mendudukkan anak itu di pangkuannya. Mereka lalu bercerita
panjang lebar. Tentu saja dominan Kyungsoo yang melontarkan pertanyaan dan
dijawab seadanya.
“Ahh
oppa lihat! Saljunya indah sekali.”
“Kau
bisa sakit kalau terlalu lama bermain salju,” Kyungsoo meraih sebelah tangan
anak itu dan membantunya menggapai beberapa keping salju yang berjatuhan.
“Aku tidak akan sakit. Ini ada syal dan sarung tangan oppa. Hehehe…”
Kyungsoo
mencubit pelan pipi anak itu sambil tertawa. Tiba-tiba di otaknya terlintas
sesuatu. Ahh kenapa tidak terpikirkan sejak tadi? Ia bisa membelikan baju
hangat, syal, dan sarung tangan sebagai kado natal. Tapi, bagaimana ia
memberikannya?
“Mau tidak kalau kita bertemu lagi di christmas eve nanti?” tanya Kyungsoo lagi. “Oppa
punya kejutan untukmu.”
“Oppa jinjjaeyo? Ne, kita bisa
bertemu di sini. Kebetulan christmas eve nanti
kakakku masih bekerja jadi sekalian aku menunggunya. Tapi, kejutan apa yang oppa mau berikan? Ngg… kado natal?”
“Anak pintar! Oppa akan
berikan kado natal yang akan membuatmu selalu tetap hangat. Jadi, kau tidak
akan sakit.”
“Kamsahamnida oppa. Tapi, bagiku biar tidak dapat kado
natal sekali pun, aku sangat senang bisa bertemu oppa saat salju pertama turun
dulu. Itu sudah jadi kado terindah untukku. Setiap malam aku berdoa agar bisa
terus bersama oppa.”
Mendengar
hal tersebut, Kyungsoo terpaku. Anak polos itu seakan sangat nyaman berada di
pangkuan Kyungsoo sambil memainkan salju di udara. Kyungsoo memperbaiki letak
syal di leher anak itu.
“Ne, kita akan bertemu lagi. Oppa janji…”
***
Malam itu, butuh waktu lama bagi Kyungsoo untuk mengitari toko dan
akhirnya piihannya jatuh pada jaket merah mungil dengan bulu putih di pangkal
lengan. Tidak ketinggalan pula syal dan sarung tangan hijau. Kyungsoo keluar
toko dengan senyum merekah menatap bungkusan cantik di tangannya kemudian
menyapukan pandangan ke sekelilingnya. Christmas eve night tahun ini lebih ramai dari tahun lalu
dan ahh salju turun! Gawat, ia harus bergegas menemui gadis kecil itu. Ia
mempercepat langkahnya.
Segalanya
masih baik-baik saja sebelum ia merasakan lengannya dicengkeram kuat oleh seseorang.
Kyungsoo terlonjak kaget. Namun, belum sempat ia menoleh, dirinya telah diseret
oleh segerombolan berandal. Entah mengapa Kyungsoo mau saja mengikuti arah
kemana orang-orang itu membawanya pergi tanpa memberontak. Dari luar ia
terlihat tenang. Namun, wajahnya memucat bukan karena dinginnya udara,
melainkan karena rasa takut yang luar biasa menghampirinya.
Mereka
baru melepaskan lengan Kyungsoo di sebuah lorong kecil dan gelap, dimana tempat
tersebut tidak terjamah oleh orang-orang di sekitar. Samar-samar wajah mereka
perlahan disinari cahaya lampu jalan. Mata Kyungsoo membesar.
Mereka… para penyanyi jalanan yang sama sepertinya…
“Kau
seharusnya sudah tahu tujuan kami menyeretmu ke sini,” ujar salah seorang di
antaranya.
“Sudah
kubilang beberapa kali. Itu tempat umum. Siapa pun bisa bernyanyi di sana.
Kalian sama sekali tidak punya hak untuk menentukan daerah kekuasaan kalian.
Apa urusan kalian hah?” balas Kyungsoo dengan nada sedingin salju.
Hal ini sudah berlangsung lama. Kyungsoo dan band-nya seringkali
harus berhadapan melawan preman-preman ini karena para begis itu menganggap
bahwa Kyungsoo telah mengambil daerahnya untuk mencari uang. Suho, Baekhyun,
Chanyeol, Kai, dan Sehun bahkan lebih tidak peduli terhadap mereka karena
tempat itulah satu-satunya yang paling strategis dan paling sering dilalui
orang-orang.
“Kali
ini kami tidak akan tinggal diam!”
Mendengar
hal tersebut, Kyungsoo jadi merinding takut. Mereka mulai berjalan pelan ke
arahnya. Dengan gemetar Kyungsoo perlahan mundur. Baiklah, kalau soal bernyanyi
di dunia ini ia percaya tidak ada yang bisa mengalahkannya. Tapi, kalau soal
bela diri…
BUKKK!!!
Seketika
Kyungsoo menerima tinjuan di perut, membuat percikan darah keluar dari
mulutnya, menodai putihnya salju di lantai gang. Datang lagi tinjuan yang
melayang tepat ke pelipisnya, membuat pandangannya sekilas kabur. Rasa sakit
itu pun datang bertubi-tubi. Dirinya kini terkulai lemah. Ia berusaha
melindungi diri namun tak berkutit saat para preman itu menendanginya
beramai-ramai.
Belum
sempat mereka puas meluapkan kekesalan, tiba-tiba badai salju bertiup kencang.
Mau tidak mau, mereka harus segera pergi dari tempat itu. Badai salju yang
turun kian menggila. Dalam keadaan setengah sadar dan kedinginan, Kyungsoo
melihat bungkusan kado yang sudah rusak karena diinjak. Tiba-tiba bayangan
wajah anak itu muncul. Tersenyum kepadanya. Ia berusaha menggapai kado itu
dengan tangannya. Akan tetapi, semuanya seketika menggelap.
***
“BAEKYOUNG-AH!!! BYUN
BAEKYOUNG!!!”
Di
tengah malam dengan terpaan badai salju, Baekhyun berteriak di sepanjang taman
kota sambil menangis meraung-raung. Suasana taman saat ini terlihat begitu
mencekam. Badai salju lebat membuat orang-orang ketakutan dan kembali
berlindung di rumah masing-masing. Tidak peduli dinginnya salju mengiris
kulitnya, Baekhyun terus berlari, meneriakkan nama adiknya.
“Baekhyun-ah, badai salju
semakin parah. Kita harus berhenti dan menyerahkan semuanya ke polisi. Sudah
kesekian kalinya kita kembali ke tempat ini tapi adikmu tetap tidak ditemukan,”
bujuk Suho sambil menepuk pundak Baekhyun yang hampir gila.
“ANDWAE!!! ANDWAE!!! BAEKYOUNG-AH!!!”
Sehun,
Kai, dan Chanyeol ikut membantu Suho menahan tubuh Baekhyun untuk tidak
bertindak lebih jauh lagi. Baekhyun meraung frustrasi. Air matanya tumpah.
Kepalanya tetap memutar ke setiap penjuru, mencari-cari sosok yang begitu
disayanginya. Hatinya terus berharap agar adiknya ada di depan matanya sehingga
ia hanya perlu berlari menghampirinya, memeluk tubuhnya yang kedinginan,
membawanya ke tempat yang hangat. Namun, hingga detik ini, pukul dua lebih
tengah malam, harapannya belum terkabulkan.
Teman-temannya
yang lain sudah seakan hampir membeku, tidak sanggup lagi untuk membantu
Baekhyun. Namun, mereka sendiri tidak tega melihat keadaan temannya. Di saat
seperti ini, memang sia-sia untuk membujuk Baekhyun untuk menghentikan
pencarian karena memang di dunia ini tidak ada satupun seorang kakak yang tega
membiarkan adiknya kedinginan di luar sana, atau yang terburuknya, mati beku.
Baekhyun
kini jatuh berlutut, kedua tangannya mengepal keras ke salju. Ia
terengah-engah. Bibir dan rambutnya membeku. Ia tidak bisa merasakan apapun di
kulitnya. Uap dingin yang terhembus dari mulutnya kian menebal. Yang tersisa
hanya rasa sakit dan bayangan adiknya.
Oppa, tadi ada kakak yang memberiku gingerbread.
Baekhyun
meringis. Hari itu, saat uang penghasilan mereka berlebih, ia baru saja
membelikan Baekyoung sekantung kecil gingerbread. Tentu saja ia tahu bahwa
adiknya itu begitu mengidam-idamkan kue tersebut. Baekyoung selalu menunggunya
pulang tepat di depan toko kue tersebut usai tampil. Namun, hari itu ketika
Baekhyun yang miskin akhirnya bisa memenuhi permintaan terbesar Baekyoung,
adiknya itu justru tidak terlalu terkesan lagi. Ada orang lain yang
mendahuluinya.
Oppa, hari ini aku bertemu kakak itu lagi. Dia memberiku coklat
hangat. Kami bermain di bawah hujan salju.
Kenapa
ia memperlakukan adiknya sedemikian rupa hingga Baekyoung tidak lagi mengenal
waktu kalau sudah berbicara tentangnya. Orang itu begitu memenuhi pikiran dan
jiwa adiknya.
Oppa, boleh tidak aku menunggu oppa selesai bekerja hari ini?
Kakak itu janji mau memberiku hadiah. Aku akan menunggumu di depan
toko yang biasa. Aku janji tidak akan nakal.
Mengapa
ia menghilang bersama adiknya? Entah apakah ia menculik adiknya atau membiarkan
adiknya menggigil sendirian di suatu tempat lain sambil menunggu, ia sama
sekali tidak habis pikir. Mengapa orang itu tega melakukannya…
***
Nyeri
hebat melanda kepala Kyungsoo. Ini akibat tinjuan di pelipisnya tadi. Kyungsoo
bangkit dari tidurnya sambil meringis. Ia perlahan memegang kepalanya yang
berbalut perban. Tunggu! Diperban? Bola mata Kyungsoo seakan hampir keluar
karena terkejut. Suhu di sekitarnya begitu hangat. Begitu kesadarannya
sempurna, betapa herannya ia berada di sebuah klinik kecil dekat dari tempat
saat ia dikeroyok tadi. Apa orang-orang yang kebetulan lewat gang telah
menyelamatkannya?
Siapa yang membawaku ke sini?
Batin Kyungsoo mulai dirasuki kekhawatiran. Anak itu, bagaimana…Ia
panik, gemetaran, tidak tahu harus berbuat apa. Perhatiannya lalu tertuju pada
jam dinding di samping tempat tidur. Pukul setengah tujuh pagi. Dadanya mulai
sesak. Tanpa pikir panjang Kyungsoo beranjak dari tempat tidur. Namun, begitu
sebelah kakinya hendak maju melangkah, lagi-lagi nyeri hebat datang sehingga ia
harus meringis sejenak.
Kyungsoo
tidak peduli. Walau bagaimana pun, ia harus menahannya. Dengan langkah pincang,
ia keluar klinik tanpa ada seorang pun yang menyadarinya. Ia harus bergegas.
Apakah anak itu menunggunya? Di tengah perjalanannya Kyungsoo tersenyum tipis.
Pasti kakak anak itu telah datang menyelamatkannya. Tidak mungkin anak itu akan
berada semalaman di bawah badai salju hanya dengan berbalut mantel usang tipis,
‘hanya untuk menunggunya’. Kyungsoo merasa sedikit lega karena kekhawatirannya
berlebihan. Ia hampir sampai. Tinggal beberapa meter lagi.
Tiba-tiba
Kyungsoo terhenti. Ia menopang tubuhnya yang lemah dengan satu tangan pada
dinding bangunan di sampingnya. Dari jauh ia melihat segerombolan orang-orang
dan polisi berkerumun. Dilihatnya garis polisi melintang di depan toko
gingerbread. Sirine ambulans memekakkan telinga. Kyungsoo terdiam. Lambat laun
perasaannya berkecamuk. Dadanya bergemuruh keras. Apa yang terjadi? Tidak
mungkin…
Dengan
tegang ia melangkah. Keningnya mulai berkerut. Matanya mulai basah.
Ketakutannya memuncak saat melihat orang-orang yang dikenalnya di ujung sana.
Suho, Chanyeol, Kai, dan Sehun. Mereka berdiri sambil terisak, berusaha
menenangkan seorang lelaki yang menangis tersedu, lelaki yang terduduk sambil
memeluk erat tubuh seorang anak kecil. Rambut kecoklatan anak itu kaku
dibekukan es. Tubuhnya pucat pasi. Pakaiannya berselimut salju. Matanya
menutup, menyiratkan bahwa ia tertidur untuk selamanya.
Byun Baekyoung
Kaki
Kyungsoo lemas, tidak mampu menopang berat tubuhnya. Ia jatuh terduduk.
Tatapannya tidak terlepas dari pemandangan mengejutkan di depannya. Kini
linangan air matanya kian deras. Dadanya seakan ditikam oleh jutaan es.
Kyungsoo terisak. Ia memegang dadanya yang sesak.
“ADIKKU TIDAK MENINGGAL! TOLONG SELAMATKAN ADIKKU! BAEKYOUNG-AH!!!”
Mendengar
raungan tersebut, Kyungsoo makin diliputi perasaan bersalah. Tangisannya kian
keras melihat tubuh kaku anak itu dibawa masuk ambulans. Raungan kesedihan dari
kakak anak itu tak terkontrol. Teman-temannya yang lain berusaha menahannya,
tidak ada hal lain yang bisa mereka lakukan. Sosok mereka lalu menghilang
tertutup pintu ambulans dan pergi menjauh, meninggalkan Kyungsoo di sana.
Mianhae… Mianhae Baekyoung-ah
This year…
Tepat
di samping sebuah toko gingerbread, Kyungsoo berlutut. Pandangannya kosong
untuk beberapa waktu yang lama sampai akhirnya ia dengan rela meletakkan bunga
di aspal. Sudah setahun berlalu…
Pikiran Kyungsoo dibuyarkan oleh gumpalan kecil putih dingin nan
lembut berjatuhan. Oh, the first snow! Ia dan seluruh manusia di sekitarnya
serentak menengadah sambil tersenyum. Persis seperti tahun lalu. Apa ini bentuk
sapaan darinya?
“Oppa datang menemuimu.”
Kyungsoo tersenyum lembut menatap bunga itu. Kenangan lama
kembali berputar. Saat ketika mereka masih saling tertawa di bawah hujan salju,
membuat Kyungsoo berkaca-kaca. Seandainya ia tidak dihadang oleh preman
jalanan, seandainya semua berjalan sesuai rencana,the warmest gift darinya pasti akan tersampaikan, natal
tahun lalu maupun sekarang, masih bisa mereka lalui bersama.
Sepasang
kaki yang berdiri di depan Kyungsoo membuyarkan lamunannya. Kyungsoo menghela
napas berat begitu menengadah. Orang itu mengulurkan tangannya kepada Kyungsoo,
menyuruhnya untuk berdiri. Sudah lama sekali ia tidak pernah bertemu dengannya.
Suasana kian kaku sampai akhirnya orang itu angkat bicara duluan.
“Kau
datang juga?”
Kini
giliran Baekhyun yang berlutut, meletakkan sebuah gingerbread di samping bunga
bermahkota pink milik Kyungsoo. Baekhyun terdiam sejenak dan tersenyum samar,
mengingat kembali memori bersama adiknya.
“Jeongmal mianhae…” ucap Kyungsoo
dengan nada bergetar menahan tangis.
“Gwaenchana,” jawab Baekhyun tulus.
Tahun
lalu saat Kyungsoo menyerahkan diri, polisi menyatakan bahwa mereka tidak bisa
menahan Kyungsoo untuk itu walaupun ia memaksa. Anak itu dan dirinya berniat
saling bertemu, namun tidak bisa dipungkiri bahwa Kyungsoo punya alibi yang
kuat dan tidak ada di tempat kejadian saat gadis kecil itu meninggal. Terlalu
banyak saksi, yaitu para preman yang memukulinya, orang asing yang
menemukannya, serta dokter klinik yang merawatnya.
CCTV
taman kota tidak menangkap dimana keberadaan anak itu. Namun, semuanya terekam
jelas di CCTV toko gingerbread. Video itu memperlihatkan saat Baekhyun tengah
mencari adiknya sambil menangis di tempat tersebut. Tetapi, Baekyoung malah
bersembunyi rapat di balik semak. Diduga kuat bahwa ia tidak mau pulang bersama
kakaknya sebelum bertemu Kyungsoo.
Akan
tetapi, berdasarkan kejadian itu, polisi bahkan menduga bahwa tersangka utama
adalah Baekhyun. Mereka beranggapan bahwa sang adik sengaja menghindar dari
kakaknya karena suatu niat jahat. Namun, Baekhyun berhasil membuktikan bahwa
dirinya sama sekali tidak bersalah. Video-video yang tidak sengaja terekam
sebelumnya selalu menunjukkan keakraban dua saudara itu dimana sang adik selalu
menunggu kakaknya usai bekerja di depan toko. Baekhyun selalu memeluknya erat
dan mencium sebelah pipinya serta dibalas sayang oleh adiknya.
“Ini
kado yang seharusnya kuberikan untuk adikmu tahun lalu,” kata Kyungsoo pelan.
Baekhyun
terpaku melihat isinya. Baju hangat, syal, dan sarung tangan. Ia tersenyum
kepada Kyungsoo sambil menangis.
“Ini
untukmu. Baekyoung membawanya saat ingin bertemu denganmu,” kata Baekhyun
sambil menyodorkan sesuatu.
Perasaan
Kyungsoo kembali berdebar. Ia dengan tidak percaya mengambil benda tersebut.
Kartu ucapan Natal dengan ornamen Santa di sampulnya. Begitu ia membuka apa
yang tertulis di dalamnya, sebulir air jatuh dari pelupuk mata Kyungsoo.
Tenggorokannya sakit karena menahan isak tangis. Ia tersenyum tulus membacanya.
Baekyoung dan jiwanya sudah tenang di alam sana.
Salju pertama saat Baekyoung dan oppa bertemu. Hanya kartu ucapan
ini yang bisa aku berikan sebagai hadiah. Happy Christmas Kyungsoo oppa.
Saranghaeyo… neoui sarang, Baekyoung ga!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
jangan lupa komentarnya